Selasa, 10 Apr 2012 16:30 WIB

Hipnotis Efektif Atasi Gangguan Medis

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Hipnotis mulai merambah dunia kedokteran. Mekanisme hipnotis agaknya mirip dengan efek plasebo di mana harapan sang pasien berperan besar dalam proses penyembuhan penyakitnya. Hypnosis dapat membantu pasien menyesuaikan harapan-harapannya agar untuk meminimalkan rasa sakit, kecemasan dan kerusakan yang ditimbulkan penyakit.

Beberapa penelitian menemukan bahwa hipnotis efektif mengatasi beberapa gangguan medis. Mulai dari mengurangi migrain hingga menurunkan tekanan darah, mengendalikan serangan asma, mengurangi gejala keringat dingin pada malam hari dan mengurangi efek samping kemoterapi.

2 buah penelitian dari Swedia baru-baru ini menemukan bahwa menjalani hipnoterapi 1 jam seminggu selama 12 minggu dapat meredakan gejala sindrom iritasi usus pada 40% pasien, sedangkan pada kelompok tanpa hipnotis hanya 12%. Bahkan efek positifnya dapat berlangsung sampai 7 tahun.

Hypnotherapy biasanya dimulai dengan terapis menginstruksikan pasien untuk bersantai, bernapas lambat, kemudian memfokuskan perhatiannya secara penuh. Beberapa versi hipnotis lainnya meminta pasien membayangkan dirinya sendiri berada di pantai atau di tempat lain yang menyenangkan dan menikmati pemandangan, suara dan sensasi yang dibayangkan.

Setelah pasien bersantai dan fokus, terapis memberikan pesan dan saran yang menenangkan, seperti, "Anda tidak lagi memiliki dorongan untuk merokok" atau "Tidak ada yang perlu ditakutkan." Secara teoritis, pikiran-pikiran itu tetap ada bahkan setelah pasien tersadar dan menghadapi dunia nyata.

Salah satu penelitian yang dilakukan Stanford University meminta peserta penelitian membayangkan dirinya sendiri sedang makan. Hasilnya, sekresi asam lambung peserta penelitian meningkat sebesar 70%.

Dalam sebuah penelitian dari Harvard Medical School yang dipublikasikan di jurnal Lancet tahun 2000, pasien yang dihipnotis selama 15 menit sebelum operasi tidak hanya lebih sedikit memerlukan obat pereda nyeri, tetapi juga membutuhkan waktu operasi yang lebih singkat.

Sebuah penelitian menggunakan pencitraan otak menunjukkan bahwa saat bagian otak yang memproses rasa nyeri aktif, bagian otak korteks cingulate anterior yang memproses perhatian kurang terlibat. Efek ini makin besar pada 10% - 15% orang yang lebih mudah dihipnotis. Namun ada sekitar 30% orang yang tahan terhadap hipnotis karena lebih memiliki sifat curiga.

"Kita bisa mengajarkan orang bagaimana mengatasi rasa sakit dan kecemasannya. Ada kesalahan dalam pengobatan bahwa jika mengalami kerusakan jaringan tubuh, maka pasien seharusnya merasa nyeri. Tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengubah seberapa banyak rasa sakit yang dirasakan," kata David Spiegel, psikiater dan direktur Center for Health and Stress di Stanford University yang telah mempelajari hipnotis selama 40 tahun seperti dilansir Wall Street Journal, Selasa (10/4/2012).

Namun para ahli mengatakan ada sedikit efek samping berbahaya dari hipnotis. Beberapa penghipnotis yang mengaku telah membantu kliennya mengembalikan ingatan yang hilang dituduh menanamkan ingatan palsu yang dapat merusak hubungan dalam kehidupan nyata.

Mencari terapis hipnoterapi sedikit sulit. Mencari bantuan dari profesional medis atau kesehatan mental yang bersertifikat dan menawarkan hipnotis bersama dengan layanan terapi lainnya adalah pilihan yang lebih aman. Setiap gangguan medis atau psikologis harus sepenuhnya dievaluasi sebelum pasien diberikan terapi.



(pah/ir)